Windows Server 2008 R2 In a Relationship with Windows 7…

image 

Ini bukan status facebook yang menandakan seseorang sedang menjalin relasi khusus alias pacaran dengan seseorang lainnya :D.

Dan juga kita tidak sedang membicarakan pasangan presiden dan wakilnya, tetapi topik ini adalah sebagai persiapan kita untuk mengenal lebih dekat dua buah produk baru yang akan diluncurkan oleh Microsoft dalam beberapa bulan ke depan.

Jika pasangan calon presiden dan wakilnya (server) mengumbar beberapa program (feature) yang dibuat untuk menjalankan pemerintahan (perusahaan) dan hasilnya untuk rakyat (client), maka sesuai padanan kata yang saya tulis di dalam kurung, kita akan lihat seberapa jauh benefit dari fitur-fitur yang disajikan oleh pasangan Windows Server 2008 R2 & Windows 7 sehingga bisa menunjang bisnis dari perusahaan baik skala enterprise, menengah maupun kecil.

Nah, kita tidak akan berpolitik, karena lebih baik kita hidup dalam damai…hahaha…

Windows Server, yang mana akan mencapai versi Windows Server 2008 R2 (R2 kepanjangan dari Release 2, atau bisa disebut juga rilis kedua), mempunyai beberapa improvement dari versi sebelumnya. Saya akan highlight apa saja yang menjadi keunggulan di Windows Server 2008 R2:

Platform Untuk Aplikasi berbasis Web

Internet Information Services (IIS) merupakan salah satu Web Server yang juga banyak digunakan untuk meletakkan aplikasi berbasis web di dalamnya. Pada Windows Server 2008 R2, IIS telah mencapai versi 7.5, dimana terdapat beberapa improvement seperti:

- .NET support pada Server Core yang mana untuk management nya bisa di remote melalui IIS Manager.

- Best Practices Analyzer (BPA) tools for IIS 7.5 yang bisa digunakan untuk menganalisa Web Server IIS 7.5 dan mencatat apa saja best practice yang belum diterapkan.

- Failed Request Tracing untuk FastCGI, yang bisa digunakan oleh para developer PHP untuk mengikutsertakan IIS trace calls pada aplikasinya.

- Improved FTP Services, dimana sudah support FTP over SSL, serta logging untuk setiap aktivitas traffic FTP dan statusnya.

image

 

Realibilitas dan Skalabilitas

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semakin ke depan, kebutuhan infrastruktur IT baik dari segi hardware, sistem maupun data mengalami peningkatan. Disatu sisi, selain membutuhkan peningkatan kapasitas dari sisi hardware, antara aplikasi dan sistem operasi pun diharapkan mempunyai skalabilitas dan realibilitas yang memadai untuk memproses data yang semakin besar. Oleh karena itu, pada Windows Server 2008 R2 ini, ada beberapa hal yang merupakan pengembangan signifikan seperti:

- Platform yang tersedia hanyalah x64 (arsitektur 64 bit), sehingga sizing dan kapasitas yang bisa digunakan lebih besar.

- Dengan arsitektur baru, improvement pada performance dan workloads juga terasa, sehingga kita bisa memaksimalkan aplikasi yang akan dijalankan di atas Windows Server 2008 R2.

 

Virtualisasi

Semenjak Windows Server 2008, Hypervisor telah diterapkan menjadi salah satu role yang mendukung untuk solusi virtualisasi di atas Windows Server. Role tersebut adalah Hyper-V. Mengingat role ini sangat berguna dan menjadi salah satu komponen pendukung Green Computing, maka role ini sudah pasti akan terus dikembangkan. Hyper-V pada Windows Server 2008 R2 mempunyai beberapa area pengembangan, seperti:

- Live Migration Support melalui Cluster Shared Volume.

- Cluster validation tool menggunakan Windows Server 2008 R2 BPA.

- Management multiple Virtual Machine yang berbeda server maupun lokasi/datacenter dengan menggunakan System Center Virtual Machine Manager 2008.

- Increased Performance dan Hardware Support, dimana Hyper-V di R2 support hingga 64 logical processors pada host processor pool.

- Untuk Virtual Networking, VM Chimney yang baru by default di non aktifkan sebagai short-term dari masalah kompatibilitas hardware. Namun jika kompatibilitas dengan hardware tidak ada masalah, VM Chimney (atau sering disebut TCP Offload) akan mengijinkan VM melakukan dump load dari network processing ke NIC dari host.

Selain virtualisasi OS, ada juga Presentation Virtualization. Jika anda ingat, pada Windows Server 2008 ada sebuah solusi yang memungkinkan kita menjalankan aplikasi secara remote melalui Terminal Services. Inilah yang disebut dengan Presentation Virtualization. Pada Windows Server 2008 R2 ini, Terminal Services berganti nama menjadi Remote Desktop Services (RDS). Microsoft juga melakukan investasi di Virtual Desktop Infrastructure (VDI) dengan kolaborasi bersama beberapa vendor seperti Citrix, Unisys, HP, Quest, dll untuk mendukung expand fitur dari RDS terutama pada area User Experience, Remote App dengan Desktop Connections, Desktop Management, dan Desktop Deployment.

image

 

Improved Management

Secara arsitektur, Windows Server 2008 R2 juga mempunyai dampak pada konsumsi daya dimana terhadap multicore prosesor serta storage, ada penurunan konsumsi daya sehingga kita bisa gunakan untuk mensuplai daya terhadap lebih banyak komputer atau server.

Secara administrasi dan management, Graphical User Interface (GUI) telah menjadi bagian sehari-hari dalam administrasi infrastruktur IT oleh System Administrator. Untuk itu, tools seperti Server Manager, Active Directory User & Computers, dll tetap bisa digunakan. Selain itu, PowerShell v2.0 sebagai salah satu alternatif untuk melakukan administrasi menggunakan command line dan scripting.

Berbicara mengenai PowerShell v2.0, ada beberapa area improvement jika dibandingkan dengan PowerShell v1.0 dimana selain kita bisa melakukan ekspansi sampai ke level attribute, PowerShell v2.0 juga menyediakan remote management menggunakan PowerShell remoting, melakukan debugging script PowerShell dengan menggunakan Graphical PowerShell serta command Out-GridView.

 

In A Relationship with Windows 7

Nah, ini dia bagian yang ditunggu-tunggu. Bukan masalah gosip mengapa mereka bisa jadian, namun lebih ke arah bagaimana kolaborasi yang harmonis dan sempurna antara Windows Server 2008 R2 dan Windows 7 menghasilkan produktivitas bagi user dan juga tim IT suatu perusahaan.

OK, tanpa berpanjang lebar, kita bahas dua fitur unggulan utama yang ditawarkan yaitu DirectAccess dan Branch Cache.

DirectAccess diciptakan untuk menjadi alternatif solusi remote connectivity ke jaringan internal suatu perusahaan. Biasanya fungsional ini dilakukan menggunakan VPN yang mana setiap user harus mempunyai VPN Client dan melakukan koneksi VPN melalui internet. Dalam bandwith bagus, koneksi VPN akan lancar, namun saat koneksi internet buruk, bisa saja menjadi halangan untuk melakukan koneksi VPN. Dengan DirectAccess, kita cukup menggunakan Windows 7 sebagai sisi client dan sedikit konfigurasi pada Windows Server 2008 R2 (termasuk masalah security untuk mengamankan infrastruktur IT internal), user cukup melakukan koneksi biasa tanpa harus melakukan VPN connection.

Sementara fitur Branch Cache memungkinkan lalu lintas data antara kantor pusat dan cabang tidak lagi dibebani oleh utilisasi bandwith WAN (Wide Area Network). Setiap ada data yang ditarik dari pusat menuju cabang, maka Server akan membuat cache data tersebut, sehingga jika ada user lain yang ingin mengambil data yang sama, maka data yang ditarik tidak lagi membebani bandwith karena ada cache yang tersimpan di server cabang.

image

 

Lalu apa lagi?

Ternyata pada Group Policy di Windows Server 2008 R2 bisa melakukan sentralisasi management konsumsi daya pada setiap komputer yang menjalankan Windows 7.

Kemudian untuk proteksi data, jika pada Windows Server 2008 dan Vista kita bisa menggunakan BitLocker untuk mengenkripsi Operating System Volume (drive) dan Encrypted File System (EFS) untuk mengenkripsi removable media seperti Flash Disk, maka pada Windows Server 2008 R2 dan Windows 7, kita bisa melakukan enkripsi terhadap Flash Disk dengan menggunakan BitLocker.

Terakhir, ada yang namanya Offline File Features yang memungkinkan kita melakukan pekerjaan pada file yang tersimpan di network shared folders ketika network shared folders berada pada posisi offline. Pada Windows Server 2008 & Vista, by default fitur ini akan tersetting sebagai Online mode. Pada Windows Server 2008 R2 dan Windows 7, by default fitur ini akan melakukan transisi ke offline mode ketika kita terkoneksi ke jaringan yang lambat. Keuntungan fitur ini adalah, mereduksi traffic jaringan ketika terkoneksi ke intranet karena jiak kita melakukan modifikasi pada file yang tersimpan di network shared folders, maka local cache akan menyebabkan adanya penambahan traffic pada jaringan dan memungkinkan terjadinya kegagalan sinkronisasi data apabila terjadi bottleneck pada jaringan. Dengan Offline File Features ini, kita bisa meminimalisir terjadinya gagal sinkronisasi karena informasi yang sedang kita olah tersimpan di Offline Files local cache.

Akhir kata, semoga tulisan ini berguna dan bisa menjadi referensi bagi rekan-rekan sekalian.

 

Best Regards,

Raymond Engelbert

Share this post: | | | |
Published Saturday, August 01, 2009 2:00 AM by x-rays

Comments

No Comments
Powered by Community Server (Commercial Edition), by Telligent Systems