Lutfie Royan

Antara Semarang dan Jakarta
Instalasi Sharepoint 2013 - Butuh NetFx3 Saat Instalasi MS SQL Server 2012

Sharepoint 2013 telah muncul untuk direview.  Sebelum instalasi Sharepoint, Anda membutuhkan MS SQL Server untuk database Sharepoint.  Kali ini saya menggunakan semua perangkat lunak terbaru.  Dijalankan diatas VMWare Player, sebuah virtual machine yang saya set sebagai domain controller, database engine dan sharepoint sebagai sebuah farm dalam satu mesin.

Jika Anda menggunakan Windows Server 2012 RC sebagai sistem operasi dan MS SQL Server 2012 sebagai database, akan muncul error saat instalasi MS SQL Server 2012.

Error yang muncul adalah MS SQL Server 2012 membutuhkan NetFx3.  Ya, MS SQL Server masih membutuhkan Net Framerwork versi sebelumnya.  Tidak mutlak membutuhkan versi 4.

Cara mengatasinya adalah gunakan Server Manager untuk melakukan instalasi Net Framework versi sebelumnya.  Jika tidak berhasil, gunakan perinta DISM yang dijalankan lewat command prompt.

c:\>dism /online /enable-feature /featurename:NetFx3 /source:d:\sources\sxs /all

Arti perintah itu adalah : pasang fitur dengan nama NetFx3 dari source instalasi yang ada di drive D:\sources\sxs dengan mengikut sertakan parent dari feature tersebut.

Silahkan perhatikan gambar berikut :

sql2012

Nah jika 100% berhasil, lakukan instalasi MS SQL Server 2012 sampai terinstall.

Share this post: | | | |
Virtualisasi Server Berbasis Hyper-V untuk Enterprise

Lutfie Royan – Infokomputer

Virtualisasi Server telah berkembang dan menjadi bagian penting infrastruktur teknologi informasi modern pada perusahaan. Virtualisasi Server memungkinkan server dibuat secara virtual dan dapat segera digunakan. Pengadaan server berbentuk virtual memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam menunjang bisnis. Suatu sistem dapat segera diinstalasi dan digunakan untuk keperluan bisnis.

Disamping itu departemen teknologi informasi dapat segera menyiapkan sistem yang diperlukan. Tanpa perlu menyiapkan anggaran yang tinggi serta tanpa menunggu pembelian server baru yang bisa memakan waktu cukup lama. Bahkan bila diperlukan, masing-masing departemen dapat menyiapkan server virtual sendiri. Tanpa perlu tergantung pada departemen teknologi informasi.

Teknologi virtualisasi dikembangkan untuk lebih mengoptimalkan server. Jika sebuah server hanya digunakan untuk aplikasi tertentu, maka kinerja prosesor dan memori sebagain besar tidak dimanfaatkan secara maksimal. Disamping itu dibutuhkan lebih banyak server untuk masing-masing aplikasi. Efek dari server dalam jumlah banyak, dibutuhkan ruangan dan energi listrik yang lebih besar.

Adanya teknologi virtualisasi membuat penggunaan server menjadi optimal. Server fisik dijadikan sebagai host dan server virtual dijalankan diatas server fisik. Server virtual dikenal dengan nama virtual machine. Tidak hanya satu atau dua server virtual, namun bisa lebih banyak. Tergantung dari spesifikasi server fisik dan teknologi virtualisasi yang digunakan.

Karena menjalankan server virtual maka server fisik harus berbagi pakai dalam penggunaan perangkat keras. Terutama penggunaan prosesor, memori dan kartu network. Oleh karena itu dibutuhkan prosesor yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses virtualisasi. Saat ini prosesor modern yang digunakan untuk server sudah mendukung teknologi virtualisasi.

Manfaat yang cukup besar dari teknologi virtualisasi membuat perusahaan mulai mengembangkan infrastruktur berbasis virtualisasi. Sebelum melakukan adopsi teknologi ini, perusahaan perlu memperhatikan langkah-langkah yang dibutuhkan. Agar pemanfaatan teknologi virtualisasi sesuai dengan kebutuhan dan bisa lebih optimal.

“Kebutuhan akan pelatihan virtualisasi semakin meningkat. Mulai dari level dasar sampai level advance. Rupanya saat ini banyak perusahaan yang mulai mencoba untuk menerapkan teknologi virtualisasi. Ini menunjukan semakin berkembangnya teknologi virtualisasi di Indonesia”, menurut Aprizon, salah seorang Microsoft Certified Trainer (MCT) di bidang IT infrastruktur.

Arsitektur Hyper-V

Microsoft Hyper-V adalah teknologi virtualisasi yang dibesut oleh Microsoft. Bermula pembelian Virtual PC dari Connectix dan diikuti peluncuran Microsoft Virtual Server 2005. Virtualisasi terus dikembangkan dan saat ini sudah berganti nama menjadi Hyper-V.

Hyper-V adalah virtualisasi berbasis hypervisor. Sedang hypervisor dikenal juga sebagai virtual machine manager (VMM). VMM sendiri adalah salah satu dari teknik hardware virtualization yang memungkinkan beberapa sistem operasi (dikenal sebagai guest) yang berjalan diatas sebuah host komputer. Guest pada dasarnya akan berbentuk sebagai file.

Ada dua model virtualisasi server yang disediakan oleh Microsoft. Yaitu :

- Hyper-V Server 2008 R2 yang berjalan langsung diatas perangkat keras (standalone). Pada model ini hypervisor langsung berinteraksi dengan perangkat keras. Sistem operasi yang berperan sebagai guest berjalan diatas hypervisor.

- Hyper-V yang merupakan role atau bagian dari Microsoft Windows Server 2008 R2 (as a role). Pada model ini hypervisor menjadi bagian dari sistem operasi host. Sehingga sistem operasi host berfungsi sebagai perantara antara hypervisor dan perangkat keras.

Agar lebih mudah dipahami, kedua model tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

clip_image002

Gambar 1. Model Hyper-V yang digunakan Microsoft.

Sedangkan secara desain dan arsitektur, Hyper-V bisa digambarkan sebagai berikut :

clip_image004

Gambar 2. Arsitektur Hyper-V

Pada gambar terlihat bahwa Windows Hypervisor adalah jembatan penghubung saat hyper-v berkomunikasi dengan perangkat keras. Tentu saja perangkat keras yang didesain dan sudah disertifikasi untuk berjalan pada sistem operasi Windows Server.

Hyper-V melakukan manajemen virtual machine dengan melakukan partisi perangkat keras. Disebut virtual partition. Virtual partition terdiri dari parent partition dan child partition. Parent partition tempat Windows Server berada. Sedangkan child partition bisa diisi dengan sistem operasi lain.

Pada parent partition terdapat independent hardware vendor (IHV) yang mengatur driver untuk perangkat keras. Selain itu ada virtual infrastructure driver (VID) untuk mengatur virtualisasi memori dan hubungan dengan child partition.

Bagian penting lainnya adalah virtual service provider (VSP) yang mengatur proses Input/Output (I/O). VSP akan berkomunikasi dengan virtual service client (VSC) yang berada di child partition. Komunikasi ini dijembatani oleh VMBus.

Kebutuhan sistem dan spesifikasi

Untuk mengimplementasikan virtualisasi server berbasis Microsoft Hyper-V, dibutuhkan persyaratan sebagai berikut :

- Sistem operasi yang berfungsi sebagai Host. Gunakan sistem operasi terbaru seperti Microsoft Windows Server 2008 R2 SP1. Bisa menggunakan instalasi secara lengkap atau hanya menggunakan edisi Core.

- Prosesor yang digunakan adalah x86-64 (prosesor 64 bit)

- Prosesor mempunyai kemampuan hardware assisted virtualization. Jika menggunakan prosesor intel dikenal dengan istilah intel-vt sedangkan untuk prosesor AMD dikenal dengan AMD-V.

- Memori minimum untuk host 2 GB

- Sistem operasi guest :

o Hyper-V mendukung sampai 4 prosesor

o Mendukung sampai 384 VM per sistem

o Mendukung sistem operasi 32-bit dan 64-bit

o Sistem operasi yang didukung meliputi sistem operasi berbasis windows serta beberapa sistem operasi linux seperti SUSE Linux Enterprise, RedHat Enterprise serta CentOS.

- Gunakan Storage Area Network (SAN) sebagai media penyimpanan virtual machine.

Manajemen Hyper-V

Pada dasarnya hyper-v sudah menyediakan perangkat manajemen untuk mengelola server virtual yang diimplementasikan. Aplikasi yang disediakan sudah cukup untuk mengelola server virtual jika perusahaan hanya mengimplementasikan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Aplikasi ini dikenal dengan nama Hyper-V Manager dan terintegrasi pada Windows Server 2008 R2.

Pada Hyper-V manager, bisa dilakukan pengaturan core prosesor yang digunakan, jumlah memori, ukuran harddisk, koneksi ke CD/DVDRom dan lain-lain. Disamping itu disediakan juga fasilitas untuk mengatur perilaku server virtual pada saat Host melakukan restart atau shutdown.

clip_image006

Gambar 3. Hyper-V management

Selain menyediakan aplikasi manajemen yang standard, Microsoft menyediakan aplikasi manajemen yang lebih lengkap. Yaitu Microsoft System Center Virtual Machine Manager (SCVMM) . Aplikasi ini termasuk dalam keluarga System Center. Digunakan untuk melakukan manajemen server virtual dalam skala besar. Bisa digunakan untuk mengelola beberapa host dan ditampilkan dalam satu aplikasi.

Keunggulan lain adalah kemampuan untuk membuat template server virtual. Bisa juga digunakan untuk melakukan migrasi dari satu host server ke host server lain. Bila diperlukan SCVMM dapat melakukan konversi dari mesin fisik menjadi mesin virtual.

clip_image008

Gambar 4. Microsoft System Center Virtual Machine Manager

Menurut Aries Triwahyudi, product marketing manager Microsoft, mengatakan “Kedepannya teknologi manajemen akan semakin lengkap. Semua dimasukan kedalam keluarga System Center. Mulai dari kebutuhan firewall, backup data, manajemen IT infrastruktur bahkan sampai provisioning untuk produk berbasis virtualisasi”.

Proses implementasi Hyper-V

Untuk melakukan implementasi hyper-v pada perusahaan diperlukan langkah-langkah yang tepat. Diagram berikut adalah alur kerja sebelum melakukan implementasi teknologi virtualisasi. Diagram ini merupakan panduan dari Microsoft dalam melakukan implementasi infrastruktur untuk virtualisasi.

clip_image010

Gambar 5. Alur kerja implementasi teknologi virtualisasi.

Penjelasan dari gambar tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tentukan batasan Virtualization

Apa yang akan dicapai dengan virtualisasi dan sesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada. Selain itu integrasikan dengan perencanaan bisnis perusahaan.

2. Daftar beban kerja server

Buat daftar kondisi beban kerja dari server dan kemungkinan untuk dirubah ke virtualisasi. Perhatikan juga aplikasi yang berjalan pada komputer pengguna yang membutuhkan koneksi ke server.

3. Metode Backup dan Fault-Tolerance

Pilih metode backup yang palling baik untuk aplikasi yang berjalan pada server. Misal untuk Microsoft Exchange atau aplikasi database. Juga tentukan backup untuk masing-masing server virtual.

4. Rangkum dan analisis kebutuhan

Analisis secara mendalam apa yang menjadi kebutuhan dan beban kerja untuk masing-masing server.

5. Rancang dan desain Virtualization Host Hardware

Tentukan tempat terbaik untuk memasang server. Jika perusahaan mempunyai banyak cabang yang terletak dibeberapa kota, tentu perlu lebih hati-hati untuk menentukan lokasi.

6. Lakukan proses pemetaan dari kebutuhan beban kerja server menjadi virtualisasi

Dari daftar yang sudah dibuat, tentukan server yang bisa diubah menjadi Host dan tentukan server yang akan diubah menjadi server virtual.

7. Desain Backup dan Fault Tolerance

Lakukan desain backup untuk menghindari kerugian bisnis yang mungkin timbul.

8. Desain Storage Infrastructure

Rancang dan gunakan media penyimpanan yang sesuai dan memiliki performa terbaik untuk keperluan virtualisasi.

9. Desain Network Infrastructure

Desain yang baik akan menghindari kemungkinan terjadi bottleneck pada jaringan komputer perusahaan.

Kesimpulan

Hyper-V dapat menjadi tulang punggung bisnis bagi perusahaan. Adanya hyper-v akan membantu perusahaan dalam melakukan penghematan dan pemanfaatan yang optimal server-server yang sudah diinvestasikan.

Microsoft Hyper-V memiliki solusi yang lengkap. Mulai dari model hyper-v sampai untuk melakukan manajemen. Piranti manajemen juga bisa digunakan untuk mengelola beberapa host sekaligus. Jadi dimungkinkan untuk melakukan manajemen dari satu tempat atau lokasi saja.

Share this post: | | | |
Pengenalan Microsoft App-V untuk Keperluan Bisnis

Lutfie Royan – infokomputer

Virtualisasi telah menjadi topik terhangat di dunia teknologi informasi dalam beberapa tahun ini. Bahkan perkembangan teknologi virtualisasi memberi dampak pada perkembangan komputasi awan. Kemudahan membuat “server virtual” pada teknologi virtualisasi menyebabkan penggunaan server menjadi optimal. Inilah salah satu infrastruktur utama teknologi komputasi awan.

Namun masih banyak perusahaan yang masih ragu-ragu untuk mengembangkan teknologi berbasis virtualisasi ini. Mulai dari ketakutan untuk mengadopsi teknologi baru, kelangkaan sumber daya untuk migrasi, ketakutan akan biaya yang mungkin semakin membengkak bahkan keengganan merubah aplikasi yang sudah ada.

Pada dasarnya ketakutan itu tidak perlu terjadi. Jika dipelajari virtualisasi sangat mempermudah pengelolaan teknologi informasi. Karena dengan virtualisasi, sebuah server dapat dengan cepat disiapkan. Dari segi biaya virtualisasi dapat memangkas biaya listrik, ruang datacenter dan server.

Mengapa memilih virtualisasi ? Pemanfaatan yang lebih optimal sebuah server. Sesuai dengan konsep virtualisasi yaitu berbagi sumber daya server. Satu server bisa digandakan menjadi beberapa server secara virtual.

Apakah virtualisasi hanya sebatas pengelolaan infrastruktur teknologi informasi ? Tentu tidak. Ada beberapa hal yang bisa diterapkan dengan teknologi ini. Mulai dari Infrastructure as a Service (IaaS), Software as a Service (SaaS) dan Platform as a Service (PaaS).

Tentu saja perkembangan teknologi ini tidak berjalan sendiri. Ada dukungan dari para pemain teknologi informasi. Mulai dari vendor penyedia perangkat keras maupun perangkat lunak. Mereka berlomba-lomba menciptakan teknologi yang mendukung komputasi awan.

Microsoft sebagai raksasa penyedia perangkat lunak tidak ketinggalan untuk berpartisipasi. Konsep virtualisasi yang dikembangkan Microsoft bersifat menyeluruh. Tidak sekedar pada pemanfaatan server, namun meliputi virtualisasi aplikasi pada desktop pengguna.

Untuk lebih memahami konsep virtualisasi berbasis teknologi Microsoft bisa dilihat pada gambar 1.

clip_image002

Gambar 1. Model Virtualisasi pada teknologi Microsoft.

Terlihat pada era komputasi awan ini, Microsoft memfokuskan pada virtualisasi dari beberapa bagian. Yaitu :

Teknologi Virtualisasi

Implementasi oleh Microsoft

Server hardware virtualization

Windows Server 2008 R2 Hyper-V™ technology

Server software virtualization

Microsoft® Virtual Server 2005 R2 with Service Pack 1 (SP1)

Desktop virtualization

Virtual Desktop Infrastructure (VDI)

Session virtualization

Remote Desktop Services (formerly Terminal Services)

Application virtualization

Microsoft Application Virtualization (App-V)

Virtualization on the desktop

Windows Virtual PC (and Windows XP Mode)

Virtualization management on the server

Microsoft System Center Virtual Machine Manager 2008

Virtualization management on the desktop

Microsoft Enterprise Desktop Virtualization (MED-V)

Semua teknologi virtualisasi ini dipadukan dan dikelola dengan aplikasi System Center. Semua berjalan menjadi satu orkestrasi yang mempermudah pengelolaan sistem teknologi informasi pada suatu perusahaan.

Salah satu model virtualisasi yang cukup menarik adalah Application Virtualization. Model Application Virtualization akan mempermudah departemen teknologi informasi untuk mengelola aplikasi bisnis yang digunakan oleh perusahaan jika diterapkan dengan tepat.

Apa itu Application Virtualization ?

Application Virtualization adalah proses membungkus atau memvirtualisasikan sebuah aplikasi beserta sistem yang dibutuhkan oleh aplikasi tersebut agar bisa berjalan. Serta proses distribusi aplikasi dari server hingga bisa dipakai oleh desktop pengguna.

Berbeda dengan virtual machine yang memvirtualisasi sistem operasi berikut aplikasi didalamnya. Application virtualization hanya memvirtualisasi aplikasi serta sistem yang dibutuhkan saja.

Sebagai gambaran, sebuah aplikasi tradisional diinstal pada sebuah sistem operasi. Aplikasi tersebut mungkin menggunakan data, sistem atau konfigurasi sistem operasi. Jika ada aplikasi yang menggunakan data, sistem atau konfigurasi yang sama, bisa jadi akan terjadi tumpang tindih dan aplikasi tidak berjalan sempurna.

Jika ada lebih dari satu desktop, maka aplikasi akan diinstal pada masing-masing desktop. Bayangkan jika ada ratusan desktop dengan puluhan aplikasi.

Pada application virtualization, aplikasi tidak perlu diinstal pada desktop pengguna. Pengguna tinggal mengakses dan masing-masing aplikasi akan memiliki data, sistem dan konfigurasi tersendiri. Sehingga tidak akan saling mengganggu dan tidak terjadi tumpang tindih.

Semua aplikasi cukup diinstal pada sebuah server kemudian aplikasi tersebut dipublikasikan pada desktop pengguna. Cara ini akan meringankan beban departemen teknologi informasi.

clip_image003

Gambar 2. Application Virtualization

Manfaat Application Virtualization

Manfaat yang bisa didapat dari Application Virtualization antara lain :

· Aplikasi tidak diinstal pada desktop pengguna, tapi dipublikasikan ke desktop pengguna

· Bisa menjalankan dua aplikasi yang tidak kompatibel jika dijalankan dalam satu sistem operasi. Misal menjalankan MS Office 2007 dengan MS Office 2010 secara bersamaan.

· Aplikasi hanya diinstal pada sebuah server. Sehingga mudah untuk dikelola.

· Manajemen aplikasi yang terpusat.

· Dapat melakukan pemaketan beberapa aplikasi yang saling berhubungan menjadi satu paket

· Aplikasi dapat diakses dari berbagai lokasi

Platform Application Virtualization

Platform yang beredar dipasaran cukup bervariasi, antara lain :

· Microsoft App-V atau sebelumnya dikenal sebagai softgrid

· VMWare ThinApp

· Citrix XenApp

· Symantec Software Solution Virtualization Solutions (SVS)

· InstallFree Bridge

· Ceedo

· Zero Install

· AppZero

· Dan lain-lain.

Dari sekian banyak platform, Microsoft App-V memiliki fitur yang cukup lengkap. Mulai dari mendukung sistem operasi 64-bit, mendukung aplikasi 64-bit, menggunakan kernel mode drivers untuk proses virtualisasi, manajemen pelaporan penggunaan aplikasi serta manajemen lisensi aplikasi.

Mengenal Microsoft App-V

Microsoft App-V adalah solusi berbasis virtualisasi yang menjadi bagian dari Microsoft Desktop Optimization Pack for Software Assurance (MDOP). Solusi ini digunakan untuk memudahkan pengelolaan aplikasi.

Microsoft App-V melakukan pengiriman aplikasi ke desktop pengguna tanpa melakukan instalasi. Aplikasi divirtualisasi dan dikirim melalui Application Virtualization Sequencer. Sebuah piranti yang melakukan pemaketan aplikasi untuk real time streaming.

Pada desktop pengguna, App-V client akan melakukan “penarikan” data aplikasi dari server. Pengambilan yang dilakukan adalah kode yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi. Sedangkan streaming aplikasi dilakukan dibelakang layar. Sehingga aplikasi bisa diakses secara cepat.

Dapat dikatakan ada tiga bagian utama Microsoft App-V, yaitu Sequencer untuk pemaketan aplikasi, Streaming Server untuk penyimpanan paket aplikasi dan Client yang terletak pada desktop untuk menjalankan aplikasi.

Gambar berikut akan lebih mempermudah pemahaman cara kerja Microsoft App-V.

A. Aplikasi dipaket melalui Microsoft App-V Sequencer

B. Paket aplikasi disimpan pada Microsoft App-V Streaming Server

C. Paket aplikasi diakses oleh Microsoft App-V Client

clip_image004

Gambar 3. Cara kerja Microsoft App-V

Sedangkan arsitektur secara lengkap dari Microsoft App-V adalah sebagai berikut :

clip_image006

Gambar 4. Arsitektur Microsoft App-V

Model Implementasi Microsoft App-V

Ada tiga cara untuk melakukan implementasi Microsoft App-V. Masing-masing model disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.

App-V Standalone

Pada model ini hanya dibutuhkan server yang digunakan untuk streaming aplikasi. Jadi tidak ada penggunaan server untuk manajemen App-V. Digunakan jika perusahaan membutuhkan App-V yang mempunyai pengguna secara offline.

Model ini cocok digunakan jika perusahaan memiliki beberapa cabang namun berbiaya tinggi untuk melakukan koneksi serta hanya memiliki bandwith yang rendah.

Berikut adalah gambar dari model standalone.

clip_image008

Gambar 5. Model Standalone

App-V Streaming Model

Model ini tidak menggunakan manajemen server. Pada model ini aplikasi dapat dilakukan streaming secara langsung. Digunakan jika perusahaan memiliki bandwith yang memadai. Jika perusahaan memiliki cabang, maka pada cabang tersebut bisa melakukan streaming aplikasi secara langsung.

clip_image009

Gambar 6. Model Streaming

App-V Full Infrastructure Model

Pada model ini, App-V diimplementasikan secara lengkap. Baik menggunakan manajemen server maupun penggunaan active directory. Ada dua fitur utama pada model ini :

- Laporan penggunaan setiap paket App-V

- Manajemen lisensi yang terpusat

Model ini membutuhkan biaya besar. Namun sangat disarankan jika perusahaan menginginkan app-v yang memiliki skalabillitas dan memiliki infrastruktur kelas enterprise.

clip_image011

Gambar 5. Model Full Infrastructure

Kebutuhan masing-masing perusahaan tentu berbeda dalam pemilihan model. Untuk memilih model yang tepat untuk suatu perusahaan, diperlukan kajian dan analisis yang mendalam atas kebutuhan perusahaan tersebut.

Kesimpulan

Virtualisasi banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi perusahaan. Salah satu model virtualisasi yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan adalah application virtualization. Microsoft App-V merupakan salah satu solusi bagi perusahaan. Adanya App-V akan mempermudah departemen IT untuk mengelola aplikasi bisnis. Karena hanya dibutuhkan satu kali proses deployment. Tidak diperlukan lagi melakukan instalasi di masing-masing desktop pengguna. Jika ada perbaikan aplikasi atau penambahan fitur, cukup melakukan deploy pada server. Semua pengguna secara otomatis akan mendapatkan aplikasi terbaru.

Share this post: | | | |
Manajemen App-V untuk Korporasi

Lutfie Royan – infokomputer

Application Virtualization (App-V) yang diimplementasikan untuk keperluan bisnis akan memberikan manfaat besar bagi korporasi. App-V dapat menjadi host bagi aplikasi bisnis yang dgunakan oleh korporasi. Aplikasi bisnis akan dijalankan secara virtual dari komputer pengguna. Model App-V akan memberi dampak ketersediaan aplikasi bisnis secara cepat. Bahkan saat pengguna berganti komputer, aplikasi bisnis dapat dengan cepat digunakan tanpa instalasi.

Selain menguntungkan pengguna, ti m teknologi informasi pada perusahaan juga diuntungkan. Semua aplikasi bisnis akan tersentralisasi. Sehingga manajemen aplikasi seperti perbaikan kesalahan program, update aplikasi terbaru, penambahan pengguna dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

Tim teknologi informasi tidak perlu melakukan instalasi pada masing-masing komputer pengguna. Bayangkan jika komputer pengguna tersebar diseluruh pelosok Indonesia bahkan manca negara. Tentu akan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Model App-V dapat mengatasi hal tersebut. Jika App-V diterapkan, akan banyak sumber daya yang bisa dihemat.

Secara garis besar keuntungan dan manfaat App-V bagi korporasi adalah :

1. App-V mudah digunakan. Baik pengguna maupun tim teknologi informasi perusahaan dapat dengan mudah mengimplementasikan dan menggunakan App-V. Pengguna cukup mengklik untuk menjalankan aplikasi. Tidak perlu melakukan instalasi dan merestart komputer. Tim TI cukup menyediakan minimal satu server untuk App-V. Semua aplikasi bisnis diinstal pada server tersebut. Komputer pengguna tidak perlu diinstal aplikasi karena semua dijalankan dari server.

2. Manajemen yang fleksibel. Untuk manajemen App-V, telah disediakan fitur untuk mengelola aplikasi yang dipasang pada App-V. Pengguna dapat melakukan update dengan cepat dan mudah. Bahkan bisa diintegrasikan dengan Active Directory. Sebagai salah satu bagian dari teknologi virtualisasi Microsoft, App-V dapat diintegrasikan dengan System Center Configuration Manager (SCCM).

3. Dapat menjalankan dua aplikasi yang berbeda yang diimplementasikan pada satu server.

4. App-V sudah terbukti dan digunakan untuk keperluan bisnis oleh perusahaan diseluruh dunia.

Agus Kurniawan, dosen ilmu komputer sebuah universitas terkemuka di Indonesi a mengatakan, “Implementasi aplikasi menjadi lebih mudah. Cukup terpusat pada sebuah server dan pengguna tinggal mengakses server itu. Jika ada perubahan model bisnis pada aplikasi, cukup dilakukan update pada server”.

Kapan saatnya perusahaan membutuhkan App-V sebagai tulang punggung bisnis ? Apa model App-V yang cocok untuk perusahaan ? Pertanyaan umum yang selalu muncul jika ingin mengimplementasikan App-V.

Seperti diketahui bahwa untuk melakukan implementasi App-V ada dua model. Masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Metode yang paling mendekati kebutuhan perusahaan sebaiknya yang dipilih.

Model implementasi App-V adalah :

- Standalone, model ini tidak membutuhkan infrastruktur yang rumit. Cukup komputer yang dijadikan rujukan klien App-V untuk menjalankan aplikasi. Biasanya digunakan oleh perusahaan dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak.

- Streaming Mode, model ini sama seperti standalone, namun ada tambahan server untuk melakukan streaming aplikasi. Cocok digunakan untuk perusahaan yang memiliki cabang dikota lain dan memiliki keterbatasan bandwidth internet.

- Full Infrastructure, model yang mengimplementasikan App-V secara lengkap. Selain ada streaming server juga disediakan management server. Bahkan model ini bisa diintegrasikan dengan System Center Configuration Manager (SCCM) 2007 R2.

Untuk memilih model yang cocok bagi perusahaan, gunakan langkah-langkah sebagai berikut :

Langkah 1: Tentukan tujuan proyek virtualisasi yang akan dicapai

Langkah 2: Tentukan model yang dibutuhkan

Langkah 3: Tentukan berapa banyak model atau ganbungan model yang dibutuhkan

Langkah 4: Tentukan cara pengguna mengakses dan melakukan metode sequencer

Langkah 5: Desain untuk model infrastruktur streaming

Langkah 6: Desain model full infrastructure

Alur data secara lebih lengkap bisa dilihat pada gambar berikut :

clip_image002

Gambar 1. Diagram alur perancangan model App-V.

Model Full Infrastructure

Jika kebutuhan perusahaan sangat komplek dan memiliki puluhan bahkan ratusan komputer yang harus dikelola, model implementasi yang paling cocok adalah Full Infrastructure. Model ini akan memberi kemudahan karena dilengkapi dengan manajemen App-V Server.

Penerapan model full infrastructure dapat dilihat pada gambar berikut :

clip_image004

Gambar 2. Model full infrastructure

Berdasarkan gambar terlihat model full infrastructure dibangun berdasar komponen sebagai berikut :

- App-V Management Server

- App-V Management System

- App-V Streaming Server

- App-V Client

- App-V Sequencer

Model full infrastructure membutuhkan server untuk manajemen. Ada dua manajemen App-V yang dibutuhkan. Yaitu App-V Management Server dan App-V Management System.

App-V Management Server

App-V Management Server digunakan untuk menyimpan data lisensi, penempatan aplikasi, hak akses pengguna dan integrasi dengan Active Directory. App-V management server inilah yang mengatur dan melayani kebutuhan pengguna saat mengakses aplikasi. Karena posisi strategis yang dimiliki oleh server ini, dibutuhkan koneksi LAN yang cepat dan satu lokasi dengan server database yang digunakan untuk menyimpan data.

App-V Management System

App-V Manajemen System terdiri dari dua bagian, yaitu App-V Management Console dan App-V Management Service. Merupakan web service yang menjadi jembatan komunikasi pada saat proses baca tulis antara MMC dan SQL Server tempat data App-V berada. Web service ini membaca dan menyimpan informasi dan dapat digunakan untuk membentuk laporan aktifitas App-V.

Kebutuhan Perangkat Keras

Agar penggunaan App-V Management Server dan App-V Management System bisa efektif, diperlukan perangkat keras dengan spesifikasi sebagai berikut :

- Minimal Prosesor Intel Pentium 1 Ghz

- Memori 2 GB

- Harddisk minimal 300 GB

Sedangkan untuk perangkat lunak yang digunakan adalah :

- Internet Information Services 7 dengan mengaktifkan ASP.NET

- Microsoft NET Framework 3.5

- Microsoft Management Console 3.0

- Application Server Role diaktifkan

- Mesin menjadi bagian dari domain Active Directory

- MS SQL Server sebagai tempat penyimpanan data.

Sistem Operasi yang digunakan :

clip_image006

Gambar 3. Sistem operasi yang bisa digunakan untuk App-V Management Server

Proses instalasi cukup mudah dilakukan. Secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut :

- Siapkan Web Server dengan melakukan instalasi IIS dan mengaktifkan ASP.NET.

- Konfigurasi database. Bisa dilakukan pada mesin tersendiri atau dijadikan satu dengan App-V Management Server.

- Lakukan instalasi App-V Management Server .

- Pastikan Application Virtualization Management Server Service dalan keadaan aktif pada service manager.

- Buka port yang dibutuhkan oleh App-V.

Berikut adalah tampilan App-V Management

clip_image008

Gambar 4. App-V Management

“Saat ini Microsoft telah meluncurkan Microsoft Application Virtualization 4.6. Manajemen Server yang lebih baik serta terintegrasi dengan Active Directory akan memberi kemudahan bagi korporasi untuk mengimplementasikan App-V sebagai tulang punggung bisnis.”, tutur Bobby Suadi, Windows Business Group Lead, Microsoft Indonesia.

Kesimpulan

Pemilihan model App-V yang akan digunakan oleh perusahaan ditentukan oleh kebutuhan itu sendiri. Jika digunakan untuk kebutuhan yang besar, sebaiknya menggunakan model full infrastructure. Model ini dilengkapi dengan App-V Management Server dan App-V Management System.

Kedua fitur ini berguna untuk mengelola App-V, baik manajemen console maupun untuk keperluan pelaporan seperti aktifitas aplikasi yang digunakan, lisensi dan lain-lain.

Proses instalasi App-V Management ini cukup mudah dilakukan. Petunjuk yang jelas serta fasilitas “wizard” yang informatif akan memberi kemudahan bagi tim teknologi informasi perusahaan.

Share this post: | | | |
Penerapan App-V Sequencer Pada Korporasi

lutfie royan – infokomputer

Desain Application Virtualization

Desain adalah hal mutlak yang harus dilakukan untuk membangun solusi berbasis Microsoft Application Virtualization (App-V). Desain yang terbaik bukan berarti harus menginstalasi semua aplikasi atau perangkat keras yang dibutuhhkan oleh App-V. Namun lebih ditujukan pada pemenuhan kebutuhan bisnis dari perusahaan.

Penggunaan desain yang tepat akan berimbas pada pengurangan Total Cost of Ownership (TCO) pada pengadaan infrastruktur teknologi informasi. Hal ini terjadi karena Microsoft App-V melakukan virtualisasi pada level aplikasi. Sehingga server yang didedikasikan untuk sebuah aplikasi, bisa diringkas dan dijadikan satu server atau beberapa server. Disinilah dibutuhkan desain yang sesuai untuk masing-masing organisasi.

Sebagian besar pertanyaan yang menyangkut desain App-v adalah seberapa luas pemahaman tentang arsitektur App-v itu sendiri. Implementasi App-V secara detail tidak bisa dilakukan jika tidak memahami dasar-dasar arsitektur App-V. Contoh, pemahaman tentang komponen yang ada pada App-V dan modul-modul apa saja yang saling berinteraksi atau saling berkaitan. Penggunaan bandwith pada jaringan atau bahkan tentang optimasi App-V client.

Menurut Aprizon, pemegang MVP Virtual Machine dan seorang implementor solusi Microsoft berbasis private cloud mengatakan, “Desain yang tidak tepat akan mengakibatkan implementasi yang cenderung merugikan. Bisa menjadi tidak maksimal atau bahkan bisa menjadi over kill”.

Seperti diketahui, ada beberapa model untuk mengimplementasikan App-V, yaitu :

· App-V Standalone

· App-V Streaming

· App-V Full Infrastructure

App-V Standalone biasanya digunakan untuk sebuah organisasi yang relatif kecil dan tidak membutuhkan aplikasi yang rumit. Hanya komponen utama App-V yang perlu disiapkan. Pada model ini manajemen server tidak dibutuhkan.

App-V Streaming pada dasarnya mirip dengan App-V Standalone. Namun pada model ini ada sebuah perbedaan. Yaitu adanya streaming server. Streaming dalam hal ini adalah pengguna akan mendapatkan aplikasi dari server secara berurutan paket demi paket. Model ini cocok digunakan untuk jika memiliki keterbatasan bandwith dan memiliki banyak cabang dibeberapa kota.

App-V Full Infrastructure Model digunakan jika perusahaan memiliki beberapa cabang, aplikasi yang digunakan beragam serta pengguna yang banyak. Sehingga dibutuhkan manajemen server untuk mengelola app-v tersebut.

Model tersebut dibangun berdasarkan komponen-komponen utama. Yaitu :

- App-V Management Server

- App-V Management System

- App-V Streaming Server

- App-V Client

- App-V Sequencer

App-V Management Server digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan informasi. Misal aplikasi apa saja yang ada, lisensi, pengaturan hak akses dan lain-lain. Tentu saja pada implementasi yang lebih komplek, management server berkaitan dengan active directory.

App-V Management System merupakan management console dan management service. Berupa web service yang menjadi “perantara” antara Microsoft Management Console (MMC) dan SQL Data store.

App-V Streaming Server akan menjadi komponen yang diperlukan jika klien tidak memiliki akses langsung ke management server. Terutama jika klien berada di kantor cabang.

App-V Client adalah komponen yang diinstal pada komputer klien. Komponen ini yang mengatur interaksi antara sistem operasi pada klien dengan App-V Server. Manajemen streaming dan melakukan cache juga dilakukan oleh komponen ini.

App-V Sequencer merupakan komponen yang melakukan konversi aplikasi agar bisa digunakan oleh app-v server dan app-v client. Bisa dikatakan merupakan komponen yang membuat App-V application.

Secara garis besar arsitektur dan komponen App-V bisa digambarkan sebagai berikut:

clip_image002

Gambar 1. Arsitektur dan Komponen Pendukung Microsoft App-V

Jika arsitektur pada gambar 1 diterapkan dengan model full infrastructure, maka hasilnya bisa dilihat pada gambar 2 sebagai berikut :

clip_image004

Gambar 2. Penerapan model App-V Full Infrastructure

Dari semua model yang dapat diimplementasikan, dibutuhkan sebuah komponen utama yang harus selalu ada. Komponen tersebut merupakan salah satu bagian penting untuk membangun solusi Microsoft Application Virtualization. Komponen tersebut adalah App-V Sequencer.

Mengenal App-V Sequencer

Microsoft Application Virtualization (App-V) Sequencer adalah komponen yang digunakan untuk membuat paket aplikasi sehingga bisa digunakan oleh sistem yang menggunakan App-V Client. Desain dan penggunaan App-V Sequencer secara benar akan menjadi kunci sukses bagi implementasi application virtualization secara global.

Dalam bahasa sederhana, aplikasi bisnis atau aplikasi produktivitas seperti MS Office dibungkus dalam satu paket. Kemudian paket ini didistribusikan secara virtual pada komputer yang sudah terinstal App-V Client agent. Komputer tersebut tidak perlu melakukan instalasi. Langsung menjalankan aplikasi yang sudah dipublish oleh server.

Rilis terbaru yang sudah bisa digunakan adalah Microsoft App-V 4.6 SP1 Sequencer. Tentu saja adanya rilis baru selalu menambahkan fitur-fitur baru.

“Fitur-fitur yang dibenamkan pada App-V 4.6 SP1 Sequencer antara lain, Package Accelerator , Setting Templates dan built-in diagnostics. Semua ini didesain agar proses sequencing berjalan lebih cepat dan mudah”, tutur Bobby Suandi, Windows Business Group Lead, Microsoft Indonesia.

Pada Microsoft App-V Sequencer ini aplikasi yang akan dikonsumsi oleh App-V Client disiapkan. Langkah-langkah pembuatan paket dipermudah dengan adanya wizard.

Hasil dari pembuatan paket di App-V Sequencer akan didistribusikan pada SCCM Distribution point, App-V Management Server, App-V Streaming Server atau dalam bentuk MSI yang sudah dipaket ke dalam CD/DVD. Setelah itu pengguna dapat menjalankan paket tersebut sesuai dengan model yang digunakan.

Gambar berikut menjelaskan pendistribusian App-V Sequencer pada arsitektur Microsoft App-V.

clip_image006

Gambar 3. Arsitektur Microsoft App-V Sequencer

Langkah-Langkah Mempersiapkan App-V Sequencer

Bagaimana menyiapkan perangkat App-V Sequencer secara maksimal ? Ada beberapa “best practices” yang bisa dilaksanakan.

Persiapan Perangkat Keras dan Perangkat Lunak

- Minimum menggunakan Intel Pentium 1 Ghz dengan memory 2 GB dan hard disk 55 GB dengan dua partisi.

- Sistem operasi yang digunakan adalah Windows XP Profesional SP3, Windows Vista (Business, Enterprise atau Ultimate) atau Windows 7 (professional, Enterprise atau Ultimate)

- Sistem operasi tidak boleh diinstal App-V client atau anti virus. Karena bisa menyebabkan paket hasil proses menjadi rusak.

- Sistem operasi sebaiknya disesuaikan dengan aplikasi yang akan dilakukan pemaketan. Jika aplikasi menggunakan Windows XP, maka App-V Sequencer diinstal pada Windows XP.

Instalasi App-V Sequencer

Instalasi yang dilakukan cukup mudah. Cukup mengikuti petunjuk pada Wizard, App-V akan terinstal. Tentu saja setelah memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh App-V Sequencer.

Proses Pembuatan Paket

Jalankan App-V Sequencer dan Create a package serta tentukan aplikasi apa saja yang akan diakses melalui App-V Client. Misal : MS Office 2010. Ikuti langkah demi langkah dari wizard yang muncul.

clip_image008

Gambar 4. Layar pembuka App-V Sequencer

Terlampir adalah proses pembuatan paket pada App-V Sequencer yang diambil berdasarkan panduan App-V dari Microsoft.

clip_image010

Gambar 5. Proses Pembuatan Paket Aplikasi

Paket yang sudah jadi akan menghasilkan file sebagai berikut :

- File SFT, merupakan aplikasi asli yang dipaket menjadi satu file.

- File OSD, merupakan pengontrol aplikasi yang dijalankan. Penghubung antara client dan file SFT.

- File SPRJ, digunakan untuk perubahan aplikasi dimasa depan dan untuk diimpor ke Management Server.

- File XML, sebagai manifest atau berisi link file-file yang saling terkait.

- File ICO, merupakan file ikon dari aplikasi.

- File MSI, digunakan untuk model App-V Standalone. Berisi file XML, OSD dan ICO.

Proses Menjalankan Paket Aplikasi

Setelah proses pemaketan, langkah selanjutnya adalah menjalankan paket aplikasi. Proses tersebut secara garis besar dapat dilihat pada gambar berikut.

clip_image011

Gambar 6. Proses Menjalankan Paket Aplikasi.

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai App-V Sequencer. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah masih ada beberapa keterbatasan. Misalkan tidak semua aplikasi bisa dijalankan dengan metode ini. Selain itu butuh kesabaran dan rajin mencari informasi diinternet tentang bagaimana sebaiknya mengkonfigurasi App-V Sequencer.

Lutfie Royan

Share this post: | | | |
Seminar Microsoft Technology Update–MUGI Semarang

flyersemarang

MUGI Semarang telah mengadakan seminar pertama untuk tahun 2012 pada tanggal16 Januari 2012. Seminar diselenggarakan bekerja sama dengan komunitas dotsemarang.  Bertempat di Parahita Café dan dihadiri oleh pekerja IT dan beberapa institusi pendidikan di Semarang.  Peserta yang diregistrasi berjumlah 45 orang dari kapasitas maksimum 50 orang.  Seminar di Café sengaja dipilh karena kami mencoba suasana baru dan bersifat lebih santai.

382994_2978285065128_1501926090_2829336_779173954_n 408364_2978309185731_1501926090_2829364_112776475_n

409139_2978310785771_1501926090_2829366_1383443712_n 389930_2978288745220_1501926090_2829340_1341996604_n

Seminar kali ini mengambil tema besar tentang update teknologi Microsoft dari tiga bidang.  Yaitu tentang cloud computing yang dititik beratkan pada hyper-v dan system center, Microsoft Office dengan materi penggunaan Powerpoint yang digabungkan dengan Mouse Mischief serta pemrograman ASP.NET dan HTML 5.

Acara dibuka dengan materi Perkenalan dan Kegiatan komunitas MUGI Semarang oleh Pak Djoko S. Beliau menjelaskan manfaat bergabung dalam komunitas dan perlunya “anak muda” Semarang mengambil peluang untuk maju bersama.

Semarang Selatan-20120115-00347

Kemudian dilanjut oleh Lutfie Royan dengan cloud computing dengan materi seputar Hyper-V dan System Center sebagai pondasi cloud computing.

403346_2978291145280_1501926090_2829343_1272856669_n

Setelah itu Winastwan Gora langsung beraksi membawakan materi Microsoft Office.  Khususnya Powerpoint sebagai salah satu alat untuk mempermudah pengajaran di kelas.  Mouse Mischief pun didemokan dengan mengintegrasikan kedalam powerpoint.

406904_2978294705369_1501926090_2829348_280937109_n 394336_2978303865598_1501926090_2829358_2062880316_n

Pemungkas acara dibawakan oleh Ahmad Masykur, MVP ASP.NET yang membawakan materi ASP.NET MVC dan HTML 5.  Beberapa demo ditampilkan oleh bocah nom asli Kendal ini Smile

385993_2978305425637_1501926090_2829360_885110034_n

Seminar tanpa goodies ? rasanya hambar.  Oleh karena itu beberapa kaos “Will code for food” pun dibagikan buat penambah semangat.

379508_2978294145355_1501926090_2829347_610946973_n

Akhir kata, ini masih langkah awal di tahun 2012.  Mari kita ramaikan event berikutnya.

389456_2978313225832_1501926090_2829368_1649068122_n

Ciao !

Share this post: | | | |
Teknologi Virtualisasi di Windows Server 8

Diambil dari Tabloid PCPlus

Anak muda yang melek internet tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah cloud computing. Sebuah istilah yang sejak beberapa tahun terakhir ini begitu sering menghiasi pojok-pojok internet. Apa sih cloud computing? Jika kita bertanya pada paman google, akan muncul begitu banyak istilah tentang cloud computing.

Menurut salah satu teori, cloud computing adalah suatu model yang memungkinkan suatu sistem (baik itu network, storage, server maupun aplikasi) yang digunakan secara bersama dan secara elastik dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Semuanya dilakukan sendiri dengan meminimalisir kontak dengan penyedia layanan.

Pemicu munculnya cloud computing adalah semakin berkembangnya teknologi virtualisasi. Virtualisasi dalam bahasa gampangnya adalah mesin-mesin bersistem operasi yang berjalan secara virtual pada sebuah mesin fisik. Mesin-mesin virtual tersebut berbagi sumber daya dengan mesin lainnya namun masing-masing mesin terisolasi dan tidak saling berebutan.

Manfaat nyata dari model virtualisasi adalah penggunaan yang optimal dari sebuah server. Kamu bisa bikin bermacam-macam sistem operasi diatas sebuah mesin. Bisa Linux, Windows atau bahkan DOS. Mungkin kamu udah cukup kenal dengan virtual box atau virtual PC. Nah itulah salah satu contoh pemanfaatan virtualisasi.

Komputer yang akan digunakan untuk virtualisasi memiliki syarat prosesor mempunyai fitur virtualization. Caranya cek di BIOS apakah ada intel@VT untuk prosesor berbasis intel atau AMD-V untuk yang berbasis AMD.

Salah satu sistem operasi berbasis server yang mendukung virtualisasi adalah Windows Server. Mulai dari Windows 2008, Microsoft serius membenamkan fitur-fitur virtualisasi. Hyper-v adalah istilah virtualisasi pada teknologi Microsoft.

Virtualisasi semakin diunggulkan dengan diluncurkannya sistem operasi baru Microsoft. Windows Server 8 adalah sistem operasi buatan Microsoft yang terbaru. Saat ini masih pre-beta. Artinya Windows Server 8 ini masih belum cukup matang. Masih taraf preview atau test. Namun sudah menunjukkan cikal bakal sistem operasi masa depan.

Pada tutorial kali ini, akan ditunjukkan langkah demi langkah untuk mengaktifkan role hyper-v pada Windows Server 8. Mari kita telusuri bersama :

1. Aktifkan server manager dashboard dari ikon server manager di start bar.

clip_image002

2. Pilih Add roles dari menu configure this local server. Lanjutkan dengan klik tombol next.

clip_image004

3. Akan muncul layar untuk memilih roles based or features based yang akan diaktifkan atau scenario based. Klik pilihan pertama dan klik tombol next.

clip_image006

4. Pilih server yang akan dipasang roles.

clip_image008

5. Akan tampil roles yang tersedia pada server tersebut. Centang Hyper-v dan klik Next.

clip_image010

6. Pilih features tambahan yang diinginkan. Jika tidak ada, abaikan dan klik Next.

clip_image012

7. Tampil layar pembuka untuk instalasi hyper-v. Klik next.

clip_image014

8. Selanjutnya adalah layar confirmation. Jika memang sudah benar dan tercentang role atau fitur yang diinginkan, klik saja tombol install.

clip_image016

9. Proses instalasi dimulai. Tunggu sampai selesai dan lakukan restart.

clip_image018

10. Akan muncul roles baru di Server Manager Dashboard. Yaitu Hyper-V. Artinya server sudah siap digunakan untuk membuat virtual machine diatasnya.

clip_image020

11. Untuk membuat virtual machine, jalankan Hyper-V Manager. Silahkan dieksplorasi

clip_image022

Hyper-V menjadi andalan bagi perusahaan yang ingin menghemat biaya server mereka. Cukup dengan satu mesin yang menjadi host, diatas mesin tersebut dapat dibuat beberapa virtual machine.

Lutfie Royan

Share this post: | | | |
Posted: Jan 23 2012, 12:37 PM by Lutfie | with no comments
Filed under:
Dynamic Datacenter–The Series 02

Briptu Norman euphoria masih berlangsung.  Dokumentasi lanjutan dari MAP Toolkit bagian kedua silahkan dinikmati Smile

http://www.youtube.com/watch?v=VuiRTLNKtL4

MAP Toolkit

Sumonggoooo…

Share this post: | | | |
Dynamic Datacenter–The Series 01

Mumpung lagi musim youtube, mau ikutan beken juga ahh Smile

Sebetulnya video ini untuk memudahkan saya mengingat apa yang pernah dipelajari di Lab Microsoft.  Saat itu saya belajar Microsoft Dynamic Datacenter.  Sebagai materi pertama, saya akan menampilkan instalasi MAP.  Silahkan menikmati Smile

MAP Toolkit

http://www.youtube.com/watch?v=0T0NLI-eBSs

Untuk selanjutnya… doakan saya bisa bikin seri berikutnya Smile

Share this post: | | | |
Dynamic memory is not available

Dynamic memory untuk hyper-v dijadikan salah satu fitur unggulan pada Service Pack 1 di Windows Server 2008 R2.

Anda sudah mencoba versi RC nya.  Kemudian Anda ingin mencoba versi release dari SP1 tersebut.  Setelah melakukan uninstall RC dan install Release, semua sepertinya berjalan normal.

Namun apa yang terjadi dengan VM yang sudah dideploy sebelumnya ?  Koq tiba-tiba dynamic memory terlihat kembali menjadi static?

SNAGHTML346f37

Ternyata…

Anda harus baca ini dulu agar dynamic memory dapat beraksi di mesin Hyper-V Anda.

http://technet.microsoft.com/en-us/library/ff817651%28WS.10%29.aspx

Nah dalam hal ini, yang bandel tidak mau ber-dynamic memory adalah Guest dengan OS Windows Server 2008 R2 Standard Edition.

Langkah yang harus Anda lakukan agar guest bisa berdynamic memory adalah melakukan install Service Pack 1 pada guest Anda.

Setelah di-Service Pack, Anda tinggal melakukan Integration Service Setup untuk guest bermasalah tadi.  Lakukan restart, lalu perhatikan apa yang terjadi?

SNAGHTML4a4f58

Pastikan juga guest Anda mengandung virtual dynamic memory Smile

image

Share this post: | | | |
Pengantar Virtualisasi Microsoft

Teknologi Virtualisasi yang sudah berkembang pesat memunculkan peluang-peluang baru. Perusahaan raksasa IT berusaha membangun platform yang terbaik untuk memanfaatkan teknologi virtualisasi ini.

Adanya virtualisasi memicu munculnya jargon marketing tentang cloud computing. Dimana gagasan ini berusaha untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kemampuan internet dengan teknologi IT yang lebih baru. Muncul layanan baru berbasis sewa (hosted). Baik menyewakan sistem operasi virtual, aplikasi maupun storage.

Perkembangan tersebut memunculkan istilah Private Cloud dan Public Cloud. Pada Private Cloud memiliki infrastruktur sendiri, sedangkan pada Public Cloud infrastruktur digunakan bersama-sama.

Microsoft mengeluarkan platform yang mendukung layanan Cloud Computing. Platform tersebut dikenal dengan istilah Microsoft Cloud Computing Platform.

Platform yang dikembangkan oleh Microsoft bertujuan untuk menyediakan infrastruktur dan layanan siap pakai. Infrastruktur yang dikembangkan mengacu pada Dynamic IT. Infrastruktur yang bisa dinamis mengikuti perkembangan bisnis.

Untuk layanan infrastruktur, Microsoft menggunakan Hyper-V sebagai tulang punggung untuk virtualisasi. Didalamnya ada layanan server virtualization, desktop virtualization, virtualization management serta cloud computing.

Server virtualization menggunakan Hyper-V sebagai pondasi utama.

Desktop virtualization menerapkan pembagian pada operating system virtualization, application virtualization serta data dan user setting.

Virtualization Management menggunakan System Center Virtual Machine Manager yang dikombinasikan dengan System Center Operation Manager dan System Center Data Protection Manager.  Digunakan untuk mengelola server.

Cloud Computing menawarkan layanan Windows Azure untuk public cloud serta private cloud berbasis teknologi virtualisasi yanga ada. Layanan private dikelola melalui Dynamic Data Center Toolkit.

Silahkan unduh file ebook sederhana untuk melihat lebih detail.

image

Semoga bermanfaat

Share this post: | | | |
Seminar di Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Mbali ndeso, mbangun ndesooo…  Mungkin itu ungkapan yang tepat saat cah semarang yang berada diluar kota pulang kampung untuk berbagi ilmu dengan anak-anak muda di kampus Semarang.  MUGI Semarang berusaha untuk mulai kegiatan ini.

Menurut pepatah “Ribuan langkah dimulai oleh satu langkah”, walau ini acara pertama namun kami dari MUGI Semarang memiliki keyakinan bahwa kegiatan-kegiatan serupa akan semakin berkembang.

Kali ini MUGI Semarang bekerjasama dengan HMJ TIKOM 2010 mengadakan Seminar “Prospek Karir Di Bidang Teknologi Informasi”. Tentu saja yang dibahas adalah karir teknologi informasi berbasis Microsoft.

Acara diselenggarakan pada tanggal 27 November 2010, bertempat di Kampus Fakultas Industri Jurusan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

clip_image002

Sambutan peserta cukup antusias. Peserta terdiri dari mahasiswa dari berbagai jurusan di Unissula bahkan dari beberapa perguruan tinggi di sekitar Semarang seperi Universitas Diponegoro, Universitas Semarang dan lain-lain. Total diperkiraan 120 orang.

clip_image004 clip_image006

Acara dibuka oleh Bapak Dekan H. Sukarno dan dihadiri oleh unsur-unsur pimpinan fakultas.

clip_image008

Kali ini MUGI Semarang diwakili oleh Pak Djoko , Rudi Setyo dan Lutfie Royan. Ahmad Masykur yang dijadwal ikut, namun tidak bisa hadir karena ada sesuatu hal.

clip_image010

Pak Djoko membawakan materi Pengenalan MUGI serta kiat-kiat menyiapkan diri untuk terjun ke dunia kerja melalui keaktifan di komunitas MUGI.

Rudi Setyo, sebagai seorang technopreuneur membawakan materi tentang karir sebagai wirausaha dibidang web development. Selain itu mengenalkan kemudahan membangun website dan pendukungnya melalui web platform installer.

Materi terakhir dibawakan oleh Lutfie Royan dengan mengusung pernak pernik karir di bidang IT-PRO. Sambil tak lupa membawakan salah satu “kerjaan” orang IT-PRO yaitu Hyper-V di Windows Server 2008 R2.

clip_image016

Sungguh menyenangkan… kali ini kami menjumpai anak muda yang berbeda. Biasanya kami jarang menjumpai anak muda yang rajin bertanya, disini kami dibombardir pertanyaan. Sampai waktu yang tidak cukup untuk menampung semua pertanyaan.  Saluut buat peserta seminar Smile

clip_image018

Oke anak muda, terima kasih kami ucapkan pada seluruh panitia yang telah bekerja keras agar acara ini dapat berjalan dengan baik dan meriah.  Semoga dimasa depan kita bisa mengadakan acara yang lebih heboh dan lebih semarak.

Buktikan pada kota lain bahwa di Semarang juga banyak bibit-bibit anak mudah yang berkualitas dan bersemangat !!!

~~~ Masa Muda.. Adalah Masa Para Remaja.. – Rhoma Irama

Share this post: | | | |
Seminar Sehari - Prospek Karir di Bidang IT

Inilah saat yang membahagiakan.  Setelah sekian lama hanya secara sporadis MUGI Semarang mengisi acara teknologi informasi.  Kali ini bekerja sama dengan cikal bakal pengurus MUGI Kampus Universitas Islam Sultan Agung Semarang serta HMJ TIKOM 2010,  MUGI Semarang mengadakan acara seminar sehari.

Tema yang diusung adalah “Bagaimana prospek karir di bidang IT”.  Tujuan dari seminar ini adalah mengenalkan pada kampus tentang karir di bidang IT, Sertifikasi serta pengenalan area kerja IT yang populer.  Ayoo warga Semarang, mari beramai-ramai menikmati tontonan menjelang akhir tahun ini.  Semoga bisa menambah wawasan mahasiswa yang mengikuti acara ini Smile

unisula-semarang

Share this post: | | | |
Posted: Nov 23 2010, 11:15 AM by Lutfie | with no comments
Filed under:
Microsoft Dynamic Data Center Part 1

Pelatihan Microsoft Dynamic Data Center yang telah dilaksanakan oleh Microsoft cukup menarik minat.  Peserta diberi keleluasaan mencoba server fisik di Redmond dengan RAM 8 GB.  Kapan lagi coba kita bisa mencoba server dengan tenang Smile

Karena tempat yang terbatas, tidak semua orang bisa mengikuti pelatihan ini.  Oleh karena itu, buat yang belum mengikuti, saya bikinkan screenshot dari materi-materi yang diajarkan.  Materi dalam bentuk file video karena saya sedang malas membuat dalam bentuk tulisan.

Secara garis besar, ada 4 materi.  Materi persiapan (MAP toolkit), Clustering, Hyper-V dan System Center (SCOM, SCVMM dan DPM).  Untuk materi MAP, akan dibagi menjadi 4 bagian.  Nah untuk tahap pertama saya bikinkan tentang instalasi.  Materi berikutnya akan menyusul, gan.

Selamat menikmati Smile

Download aja melalui :

http://cid-7788c1a656bea075.office.live.com/self.aspx/Public/Microsoft%20Dynamic%20Datacenter/MAP%20Toolkit/MAP%20Toolkit%20-%20Installation%20-%20Lutfie%20Royan.wmv

 

Share this post: | | | |
Windows Server 2008 R2 SP1 Release Candidate

Seperti yang bapak Naren kemukakan diblog http://wss-id.org/blogs/narenda/archive/2010/10/28/unduh-windows-7-amp-server-2008-r2-sp1-release-candidate-rc.aspx bahwa saat ini SP1 sudah Release Candidate, segera saja diunduh.

Buat yang malas untuk mengunduh, tapi pengen lihat tampilan hyper-v rasa SP1 RC, silahkan pandangi saja gambar dibawah ini :

dynamic2

dynamic

Saat ini sedang ditest oleh teman saya yang baik hati diujung Surabaya sana.  Tunggu saja laporan lengkap beliau Smile

Share this post: | | | |
More Posts Next page »