Adakalanya create folder merupakan hal yang sudah biasa di kalangan pengguna windows. akan tetapi banyak yang belum mengetahui bahwa suatu folder tidak diperkenankan untuk di beri nama yang berhubungan kata cadangan (reserved word) dalam ms dos.
Adapun reserved word yang tidak diperkenankan dijadikan sebagai nama suatu folder adalah :
CON, PRN, AUX, CLOCK$, NUL, COM1, COM2, COM3, COM4, COM5,
COM6, COM7, COM8, COM9, LPT1, LPT2, LPT3, LPT4, LPT5, LPT6, LPT7, LPT8,
dan LPT9.
Nah.... bagi yang berniat untuk memberi nama folder di windows. silahkan untuk tidak menggunakan nama yang sama dengan nama tersebut di atas.
Membaca "Kenali komponen Jaringan Anda" yang dikarang oleh pak Tutang, mungkin perlu ditambahkan suatu alternatif penggunaan jaringan melalui kabel listrik. Tulisan ini membahas teorema tentang membangun infrastruktur jaringan melalui kabel listrik.
A. Pendahuluan
Jaringan komputer adalah suatu tata cara berkomunikasi
antara sumber daya informasi satu dengan lain melalui medium transmisi. Medium transmisi yang dapat digunakan dalam
melakukan transmisi data dapat dikategorikan dalam 3 (tiga) jenis media, yaitu
:
Media transmisi kabel saat ini merupakan salah satu
media transmisi data yang cukup popular digunakan dalam melakukan komunikasi
data dari sumber daya informasi satu dengan sumber daya informasi lain, walau
beberapa tahun terakhir ini keberadaannya di geser oleh teknologi wireless yang menggunakan udara sebagai
media transmisi datanya.
Bergesernya penggunaan kabel menjadi udara sebagai
media transmisi data salah satunya dikarenakan tidak efisiennya penggunaan
media transmisi karena jarak jangkauan yang terbatas serta kebutuhan kabel transmisi seperti UTP (un-twisted pair) atau coaxial yang cukup besar dalam
perencanaan pembangunan jaringan komputer pada suatu organisasi. Disamping hal tersebut dari sisi estetika,
penggunaan kabel data menjadi permasalahan tersendiri, sehingga rencana pembangunan
jaringan komputer dengan media transmisi kabel saat ini mulai tergeser dengan
teknologi wireless.
Pemanfaatan jaringan listrik tegangan rendah sebagai
alternatif transmisi data melalui media kabel, merupakan salah satu pilihan
karena dari sisi kebutuhan kabel khusus seperti UTP atau coaxial dapat ditekan, disamping sisi estetika pemasangannya sudah
menyatu dengan jaringan listrik yang secara umum telah tersedia di
gedung-gedung perkantoran dimana organisasi tersebut berada.
B. Tinjauan Pustaka
B.1. Infrastruktur Jaringan Listrik
Pada dasarnya Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Indonesia saat ini membagi tegangan listrik dalam 4 kategori, yaitu :
- Saluran Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), yang memiliki kapasitas 500 KV
- Saluran Tegangan Tinggi (SUTT), yang memiliki kapasitas 150 KV
- Saluran Tegangan Menengah (SUTM), dengan kapasitas 20 KV (Fase - Fase) dan
- Saluran Tegangan Rendah (SUTR), dengan kapasitas 320/220 KV yang biasa digunakan di perumahan dan perkantoran pada umumnya
Pendistribusian tegangan listrik pada dasarnya didistribusikan melalui saluran tegangan menengah melalui trafo distribusi menjadi saluran tegangan rendah 3 fase yaitu R, S, dan T, dimana pada setiap fase tegangan katakan R - N = 220 Volt, yaitu nilai tegangan yang keluar dari seriap outlet yang ada di rumah atau perkantoran yang ada. Digambarkan sebagai berikut :

Dengan demikian infrastruktur suatu listrik tegangan rendah secara hirarki mirip dengan infrastruktur suatu jaringan komputer yang jumlah pengguna di setiap rumah/outlet yang ada berbeda-beda, baik dari segi panjang masing-masing jalur maupun banyaknya outlet yang terdistribusikan, yang digambarkan sebagai :

B.2. Prinsip Kerja Komunikasi Data Melalui Listrik (PLC)
Pada prinsipnya saluran listrik memiliki frekuensi yang nilainya berada dalam range 50/60 Hz. Apabila frekuensi tersebut dinaikkan ke frekuensi ultra tinggi dalam range 500/600 MHz, maka secara teori data
dapat ditumpangkan ke atas kabel utama listrik tanpa terjadi kondisi saling
melemahkan.
Mengacu ke dasar tersebut
maka tegangan rendah tersebut pada prinsipnya dapat ditumpangi data, karena
tersedianya Jaringan Daya Terkondisi Frekuensi Tinggi (High Frequency Conditioned Power Network, HFCPN), yaitu dengan cara
menginjeksikan sinyal-sinyal data ke dalam daya listrik dengan percepatan
sampai 10 juta kali sehingga frekuensi ultra tinggi dapat terjadi. Untuk maksud tersebut dibutuhkan suatu unit
pengkondisi (Condition Unit, CU), berupa kopel terminal untuk bagian high and low pass filter. Sistem
komunikasi data digital melalui kanal jaringan listrik secara garis besar ditunjukan
pada gambar berikut :

Adapun transmisi data yang digunakan pada kanal jaringan
listrik tegangan rendah ini adalah OFDM (Orthogonal
Frequency Division Multiplexing), yaitu
teknik transmisi dengan banyak frekuensi (multicarrier)[3]. Menggunakan
Discrete Fourier Transfor (DFT) dengan beberapa buah frekuensi yang saling
tegak lurus (orthogonal). Dibandingkan
dengan sinyal FDM (Frequency Division Multiplexer), sinyal OFDM memungkinkan
terjadinya modulasi pada tiap-tiap sub-carrier,
sehingga sinyal yang telah termodulasi tersebut diaplikasikan ke dalam Inverse Discrete Fourier Transform
(IDFT), untuk pembuatan simbol OFDM. Penggunaan IDFT ini memungkinkan pengalokasian
frekuensi yang saling tegak lurus (orthogonal). Bentuk sinyal OFDM dibanding dengan sinyal FDM
seperti ditunjukan pada gambar di bawah ini :
Saat
ini penggunaan OFDM dalam komunikasi data tidak hanya terbatas pada transmisi
pada listrik tegangan rendah saja, akan tetapi telah digunakan pada teknik
transmisi wireless, yang mulai banyak digunakan dalam teknologi informasi.
Dengan demikian komunikasi jaringan komputer melalui jalur listrik saat ini bukan merupakan suatu teorema melainkan telah terimplementasi di beberapa tempat. Mungkin saatnya penelitian komunitas ini dapat memberi nilai tambah untuk membangun jaringan komputer di pedesaan.
C. Rancang Bangun Infrastruktur Jaringan Komputer melalui Jaringan Listrik
Seperti yang di jelaskan di atas, infrastruktur yang umum pada suatu perkantoran saat ini adalah pembagian listrik dalam 3 fase, sehingga memungkinkan
pendistribusian secara proposional, tetapi kondisi ini akan menyulitkan dalam
mentransmisikan data dari satu lokasi ke lokasi yang lain pada kondisi fase
yang berbeda. Hal ini dikarenakan hanya
sub-ruang dalam fase yang sama saja yang saling terkoneksi datanya sedangkan
pada sub ruang lain dengan fase yang berbeda tidak tersedia. Kondisi ini membutuhkan suatu metode bridging, yang menggabungkan peralatan-peralatan komunikasi melalui
transmisi listrik tegangan rendah yang ada di setiap fase tegangan ke dalam
satu jalur komunikasi. Prinsip bridging dari infrastruktur jaringan PLC ini dapat di gambarkan sebagai berikut :

Dengan teknik bridging kendala komunikasi data dalam perencanaan jaringan
komputer melalui listrik tegangan rendah dapat terpenuhi. Akan tetapi jika dilihat dari sisi
keamanan data, teknik ini dapat memudahkan organisasi luar untuk memanfaatkan
jalur data yang terdapat dalam satu area gedung. Beberapa vendor produk yang menawarkan
peralatan komunikasi data melalui listrik tegangan rendah, Beberapa vendor menempatkan faktor
keamanaan data dalam kemasan produknya dengan security 3DES Link Encryption, Network
Encryption Key passwords (NEKs),
serta Device Encryption Key (DEK) yang terdapat pada perangkat lunak
agent yang dimiliki.
Faktor kecepatan transmisi data juga
merupakan pertimbangan lain dalam mengkomunikasikan data dari satu tempat ke
tempat lain melalui listrik tegangan rendah, menurut standarisasi homeplug 1.0,
kemampuan transmisi data melalui kabel listrik hanya dapat di saluran maksimum
14 Mbps, nilai ini termasuk kecil jika dibandingkan fungsi dari saluran
tersebut sebagai backbone jaringan
dari suatu organisasi yang ingin menerapkan komunikasi via jaringan listrik.
Mengacu ke beberapa penelitian
terakhir, penggunaan transmisi OFDM dapat memungkinkan penambahan kemampuan transmisi
data ke tingkat 200 Mbps, yaitu dengan metode HFCPN yang diperbaharui. Kemampuan inilah yang dapat digunakan dalam
membangun jaringan komputer melalui listrik tegangan rendah.
D. Kesimpulan dan Saran
Dengan
memanfaatkan jaringan listrik tegangan rendah
dalam merancang jaringan komputer lokal, maka dapat diambil simpulan sebagai
berikut :
- Media transmisi
data melalui listrik tegangan rendah dalam 3 fase tegangan perlu
dipertimbangkan faktor bridging
saluran, sehingga data dapat tersalurkan dengan baik di setiap fase tegangan.
- Transmisi data melalui listrik tegangan rendah ini
menggunakan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexer) yang saat ini
lebih berkembang dibandingkan metode lain.
- Tumbuh kembangnya
vendor yang menawarkan peralatan, melalui saluran listrik dapat dimungkinkan
suatu model topologi campuran yang dikenal dengan metode hybrid.
- Faktor keamanan data dalam merancang jaringan listrik
ini merupakan faktor penting, karena terbukanya saluran data pada setiap fase
tegangan.
Beberapa saat yang lalu, kami pernah di tanya oleh suatu perusahaan yang memiliki spesifikasi jaringan yang terdiri atas 6 segment IP. Perusahaan tersebut ternyata ingin mengalokasikan IP untuk setiap segment dengan spesifikasi dan persyaratan sebagai berikut :
- Untuk IP dengan nomor depan 1 sampai 10 dikhususkan kepada para manager keatas
- IP dengan nomor antara 11 sampai 100 ditujukan untuk para staff
- IP dengan nomor antara 101 sampai dengan 255 dialokasikan untuk tamu yang masuk dalam perusahaan tersebut
- Setiap IP yang dialokasikan tersebut tidak berubah dan setiap tamu yang bermaksud mengunjungi perusahaan tersebut harus meregistrasikan komputernya ke departemen MIS untuk mendapatkan alokasi IP, sehingga IP yang dialokasikan tersebut ternyata harus bersifat statik.
- Perusahaan memiliki 310 unit komputer yang tersebut dalam beberapa gedung
Menjawab permasalahan yang diberikan oleh perusahaan tersebut, kami menyarankan penggunaan fasilitas DHCP static dengan memanfaatkan Address Pool dan Reservation untuk mengalokasikan IP yang bersifat statis di perusahaan tersebut.
Adapun cara pendefinisian DHCP Static adalah sebagai berikut :
- Pada tombol start sorotlah Administrative Tools yang tersedia dan pilih DHCP
- Setelah jendela DHCP terbuka pilih tombol Action di menu dan klik Add Server, atau dengan cara menyorot icon DHCP, klik tombol kanan mouse dan pilih Add Server
- Setelah jendela Add Server terbuka, pada kolom this server tulis nama server yang akan dijadikan sebagai server DHCP, klik OK
- Pilih menu Action dan klik new scope, setelah muncul Jendela New Scope Wizard yang diawali dengan welcome message klik tombol Next
- Isi scope name dan description untuk menunjukan nama DHCP yang ada
- Isi IP Address Range yang di mulai dari start IP Address dan end IP Address, length dan subnet mask, klik next
- Isi Add Exclusions yang ada dengan IP yang sama seperti pada IP Address Range, misalnya antara 192.168.1.1 sampai dengan 192.168.1.254 (tidak ada ip yang di distribusikan), tekan tombol Add dan klik tombol Next
- Isi Lease Duration dari IP tersebut di ganti setiap berapa hari sekali (lewatkan jendela ini jika ingin menset secara default), klik Next
- Isi Configure DHCP Options dengan memillih opsi Yes, I want to Configure these options now, klik Next
- Isi IP Router (Default Gateway), misalnya dengan IP 192.168.1.0, Klik Next
- Isi Domain Name and DNS Servers, klik Next
- Abaikan Win Server jika semua komputer menggunakan sistem operasi Windows 2000 atau yang versi lebih baru, klik Next
- Pilih Yes, pada Activate Scope, klik Next dan Tekan tombol Finish
- Setelah DHCP dijalankan cek Address Pool dari DHCP tersebut, jika sudah nilai IP Address Exclusion yang menandakan IP tersebut tidak di distribusikan maka klik tombol reservations, pada menu action pilih new reservation
- Setelah jendela New Reservation muncul isi kolom reservation name dengan nama komputer yang diset secara static misal Manager IT untuk kolom reservation name, karena nomor IP yang di rencanakan bagi kalangan manager adalah nomor IP dari 1 sampai dengan 10 maka seting nomor IP tersebut dengan range IP tersebut.
- Isi nomor MAC Address dari komputer yang dimiliki oleh Manager IT tersebut, isi description dan pilih supported type yang sesuai, diakhiri dengan tombol Add
- Ulangi urutan nomor 15, berulang untuk menset semua komputer yang ada dengan Ip yang bersifat static
Setelah tata cara tersebut di atas di jalankan, jalan lupa untuk melepas setiap IP di komputer client secara automatis.
Sampai dengan hari ini, Alhamdulillah semua komputer yang ada di perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik.